UNIVERSITAS Warmadewa (Unwar) melepas 82 mahasiswan­ya untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Pember­dayaan Masyarakat (PPM) Tema­tik Kebencanaan di Karangasem. Mereka terdiri atas 80 mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan serta dua mahasiswa Fakultas Sastra. Kegiatan dilak­sanakan 13-26 Januari 2018 di delapan posko yang ada di tiga desa di Kecamatan Rendang.

Pada KKN ini pihak Unwar berencana menyalurkan sembako yang dititikberatkan pada makan­an sehat. Pelepasan peserta KKN dilakukan oleh Rektor Unwar Prof. dr. I Dewa Putu Widjana, DAP&E., Sp.Park. di Auditorium Widya Sabha Utama Unwar, Den­pasar, Jumat (12/1) kemarin.

Menurut Rektor Unwar, KKN' merupakan modal dasar maha­siswa untuk dapat membantu masyarakat yang sedang men­galami musibah. Pada kegiatan ini intinya mahasiswa mencoba mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang didapat di kampus untuk membantu ke­hidupan masyarakat, di samping menjalani tugas dari kurikulum yang ditempuh.

Untuk dapat berhasil dalam KKN kali ini, mahasiswa harus memiliki rasa suka turun ke la­pangan dan memberikan bantuan pada masyarakat yang mengalami musibah. Minimal ada dua soft skill penting yang harus dikuasai dalam KKN. Pertama, kemam­puan dalam berkomunikasi. Bu­kan hanya sebatas verbal, namun lebih dari itu, sehingga mahasiswa dapat larut di masyarakat dengan interaksi yang harmonis. Kedua, memiliki rasa empati akan pen­deritaan masyarakat. Ia mengharapkan dalam KKN, maha­siswa dan masyarakat sama-sama mendapatkan manfaat.

Widjana berpesan kepada peserta KKN agar bekerja dengan sebaik mungkin dan jangan sekali-sekali membuat skandal. Ia tidak mau mendengar ada mahasiswa membuat persoalan di masyarakat, karena bukan itu tujuaan KKN. "Junjung tinggi nama baik almamater kita dengan berbuat sebersih mungkin," tegasnya.

Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali Dr. Drs. A.A. (ide Oka Wisnumurti, M.Si. men­erangkan, kehadiran mahasiswa di tengah-tengah masyarakat diharapkan tidak menjadi beban. Mereka hadir untuk membantu menyelesaikan persoalan-per­soalan yang terjadi di masyara­kat. Mahasiswa telah dibekali cara-cara mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah. Lebih penting lagi, mahasiswa tahu dan mengerti tata krama dan budaya masyarakat setempat.

Menurutnya, penanganan ben­cana erupsi Gunung Agung mesti dilakukan dengan pendekatan multidisiplin, karena di situ terjadi berbagai persoalan, seperti ma­salah ekonomi, sosial, kesehatan dan mungkin psikis masyarakat. Selain itu, masalah keberlajutan pendidikan anak-anak.

Wakil Ketua Panitia dr. Tan­jung Subrata, M.Repro. me­nambahkan, di hampir semua daerah bencana, salah satu faktor yang menonjol adalah masalah kesehatan. Dua kelom­pok yang berisiko tinggi adalah balita dan lansia. Mahasiswa yang telah dibekali bagaimana cara menyikapi, memberikan informasi dan mengedukasi masyarakat terkait masalah kesehatan, diharapkan mampu menjadi contoh pola hidup sehat pada masyarakat. "Kita mungkin bukan yang pertama datang di sana. Harapan kami, Anda bisa menjadi yang terbaik di sana," ungkap Subrata.


 

Bali Post Sabtu Pon, 13 Januari 2018

 


Tamu Online

We have 44876 guests and no members online

 

Penilaian Website Kami

         yayasankorpribali.org review, PageRank, website value and SEO analytics       yayasankorpribali.org review, PageRank, website value and SEO analytics