SELAMAT - Wakil Rektor I Unwar Nyoman Kaca bersama Nyo­man Kardana dan Cok. Istri Raka Indrawati memberi ucapan selamat kepada Made Suniastha Amerta atas gelar doktor yang dicapainya.

Desa Wisata Jasri Belum Berbasis Masyarakat

SATU lagi dosen Universitas Warmadewa (Unwar) Denpasar menyandang gelar doktor. I Made Suniastha Amerta, S.S., M.Par. berhasil meraih gelar doktor di Prodi Doktor (S-3) Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Unud, Jumat (17/2) kemarin. Dia sukses menyelesaikan studi doktor se­lama enam tahun dan meraih predikat kelulusan sangat baik.

Suniastha adalah dosen Faksas Unwar menyelesaikan S-l di Faksas Unwar (1998), S-2 diraih di Kajian Pariwisata Unud (2005). Suami dari Ni Luh Putu Suartini dan ayahnda tercinta Geni Jayendra Sahya Amertha dan I Komang Ashiswagga Dharmartya Amerta ini lahir di Karangasem, 16 Desember 1972.

Usai dinyatakan lulus sebagai doktor ke-191 di Ilmu Kajian Budaya Unud, Suniastha Amerta langsung mendapat ucapan sela­mat dari Wakil Rektor I Unwar Ir. I Nyoman Kaca, M.Si., Ben­dahara Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali Cok. Istri Raka Indrawati, S.E. dan Dekan Faksas Unwar Prof. Dr. Nyoman Kardana, M.Hum.

Nyoman Kardana mengatakan, dengan kelahiran doktor baru ini Faksas Unwar kini memiliki de­lapan dosen bergelar doktor. Se­makin banyak dosennya meraih doktor, akan semakin baik iklim akademik kampus serta jelas berpengaruh pada output dan outcomes lulusan.

Suniastha Amerta meraih ge­lar doktor atas bimbingan promo­tor Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A. serta kopromotor Pof. Dr. I Gede Parimartha, M.A. dan Dr. I Gede Mudana, M.Si. Dia menjawab semua pertanyaan dewan pen­guji yang dipimpin Dekan Ilmu Kajian Budaya Unud Prof. Dr. Luh Suciati Beratha, M.A. den­gan disertasi berjudul "Pengem­bangan Pariwisata Alternatif di Desa Pakraman Jasri, Subagan, Karangasem".

Ia memaparkan, desa wisata sebagai alternatif wisata di Desa Jasri belum memberi kontribusi yang berbasiskan masyarakat. Pemerintah harus lebih serius memperhatikan desa wisata yang ada termasuk merangkul investor, pelaku pariwisata se­cara bersinergi membangun dan mengembangkan desa wisata.

Pelaku pariwisata, lanjut Suniast­ha Amerta, harus mengarahkan CSR kepada desa wisata yang rata-rata belum mampu memberi sumbangsih, namun sudah membawa perubahan pada pola pikir untuk mau membantu atau beryadnya demi pengembangan desa wisata Jasri. Masyarakat lokal Bali juga perlu mengunjungi desa wisata Jasri.

Temuan penelitian Suniastha Amerta meliputi adanya hegomoni pemerintah dan pelaku pariwisata terhadap masyarakat lokal serta fenomena atraksi wisata berbasis habitat, yakni rumah cokelat which can be created. Disimpulkannya, pengem­bangan pariwisata alternatif Desa Wisata Jasri kurang berbasis masyarakat, sehingga dalam pengembagannya belum mencapai hasil yang diharapkan.

Penelitiannya menggunakan metode kuantitatif sesuai kaidah kajian ilmiah dan paradigma kajian budaya. Untuk pemeca­han permasalahan, ia menggunakan tiga teori besar, yakni hegemoni, kuasa dan tindakan komunikasi.

 

Ke depan diharapkan semua komponen pariwisata termasuk pemerintah dan stakeholders lain berperan mempromosikan desa wisata kepada wisatawan seh­ingga mampu memberi pendapa­tan tambahan bagi masyarakat. 


Bali Post Sabtu Wage, 18 Februari 2017


Tamu Online

We have 11 guests and no members online

Subscribe Berita Kami!

Follow
Subscribe to this content and receive updates directly in your inbox.
Name
Email

Penilaian Website Kami

         yayasankorpribali.org review, PageRank, website value and SEO analytics       yayasankorpribali.org review, PageRank, website value and SEO analytics