KESADARAN BELA NEGARA BAGI PEREMPUAN

 

KADER ORSOSPOL

Oleh:

Drs. Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, MSi

A. Pendahuluan

Bela negara pada hakekatnya merupakan segala upaya  untuk membela dan mempertahankan negara dari berbagai hambatan, tantangan, ancaman dan gangguan baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar yang dapat mengganggu kelangsungan hidup bangsa dan negara  Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 27 ayat 3 mengamanatkan bahwa “setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara” .

Bela negara dengan demikian merupakan bagian dari usaha menjaga pertahanan  dan kemanan Negara, yang menurut UUD 1945 pasal 30 ayat 2 mengamanatkan “Usaha pertahanan dan keamanan Negara dilaksanakan melalui system pertahanan dan kemanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat sebagai kekuatan pendukung. Kesemestaan dalam sistem pertahanan rakyat semesta mengandung makna pelibatan seluruh rakyat dan segenap sumber daya nasional, sarana dan prasarana nasional, serta seluruh wilayah Negara sebagai satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh.

 

Berdasarkan landasan tersebut diatas  sangatlah jelas bahwa setiap warga negara  tidak terkecuali perempuan memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan bela negara. Hak dan kewajiban ini  menjadi tanggungjawab yang melakat pada setiap warga negara. Diantaranya, melalui pembangunan karakter bangsa (nation character building) dengan memberikan kesamaan cara pandang dalam melihat bangsa dan Negara sebagai satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan ideology, politik, ekonomi, sosial, sosial dan budaya serta pertahanan dan keamanan.

Dalam sejarah perang kemerdekaan, kita memiliki sangat banyak contoh kiprah kaum perempuan yang memiliki semangat heroisme yang tidak kalah dari kaum laki-laki, baik di tingkat nasional maupun lokal. Perjuangan Cut Nya Dien, Dewi Sartika dalam melakukan bela Negara telah tercatat dalam sejarah perjuangan dan bahkan telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional atas jasa-jasanya. Begitupun kiprah R.A. Kartini telah mampu mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan dalam gerakan emansipasinya. Di tingkat lokal kitapun punya banyak contoh pejuang perempuan yang mampu menunjukkan semangat juangnya dalam bela Negara seperti Cokorde Istri Kania, Jro Jempiring dan masih banyak yang lainnya.

Disadari bahwa setiap zaman akan memiliki jiwa tersendiri, hal ini akan membawa perbedaan dalam menghadapi  hambatan, tantangan dan ancaman serta gangguan yang terjadi Namun demikian, perjalanan sejarah perjuangan tersebut sangatlah penting untuk dijadikan refleksi dan restrospeksi bagi kaum perempuan khususnya kaum perempuan kader orsospol dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks.


B.
Permasalahan

Disadari bahwa setiap jaman akan membawa tantangan tersendiri dalam konteks bela Negara. Pada masa sebelum kemerdekaan, bela Negara dimaknai sebagai upaya mempertahankan dan memperjuangkan  kemerdekaan tanah air dari belenggu penjajahan.  Setelah kemerdekaan, tantangan kita adalah bagaimana menjaga, memertahankan, mengisi dan membangun bangsa dan Negara ini agar tetap utuh, terjaga persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI, serta maju dalam pembangunan baik  fisik maupun non fisik.

 

Dalam mengidentifikasi permasalahan dalam bela Negara, dapat dilakukan dengan dua pendekatan, masing-masing pentekatan internal dengan melihat hambatan dan tantangan bagi bangsa dan Negara dalam menjaga persatuan dan kesatuan, ideology Negara, character building,  serta mengisi pembangunan. Sedangkan pendekatan eksternal dengan melihat ancaman dan gangguan yang dating dari luar.

Permasalahan yang mesti diantisipasi dari dalam atau secara internal tidak terlepas dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang kerap muncul seperti, bagaimana menjaga nilai-nilai kebersamaan, gotong royong dan rasa nasionalisme setiap warganegara yang tercermin dalam ideologi  Pancasila. Prsoalan ideology merupakan persoalan utama dan medasar yang patut mendapatkan perhatian kita semua. Oleh karena persoalan ini merupakan hal yang sangat substansial ketika bicara Negara, hubungan Negara dengan rakyat, Negara dengan pihak luar, cita-cita bersama, harapan rasa kebangsaan dan nasionalisme.

Disamping persoalan ideologi, kita   juga dihadapkan pada persoalan ekonomi seperti pemerataan pembangunan, kemiskinan, ketimpangan pendapatan. Hal ini juga akan menjadi hambatan dan sekaligus tantangan dalam mebangun negara. Persoalan sosial-budaya dengan adanya selaksa adat, tradisi dan budaya digugusan katulistiwa harus dijaga keberadaannya, kencedrungan untuk saling meniadakan adat, budaya dan tradisi melalui penyeragaman ataupun hegemoni budaya justru akan mengganggu rasa kebangsaan yang terbangun dari semangat multikultural. Tantangan dibidang sosial lainnya seperti kebodohan, kemelaratan, keterbelakangan perlu mendapatkan perhatian semua pihak.

Dibidang politik perlu juga mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Kita telah memasuki masa transisi demokrasi, yakni suatu  suatu masa yang bergerak dari otoritersime ke masyarakat yang demokratis. Proses pendewasaan politik melalui jalan demokrasi ini  harus dikawal dengan baik dan sungguh-sungguh. Karena proses ini kerap memunculkan dua hal; pertama, apabila berhasil kita akan keluar menjadi Negara yang demokratis; kedua; apabila gagal maka kita akan kembali menjadi Negara yang otoriter. Oleh karena itu mengawal proses demokrasi ini merupakan pekerjaan rumah kita bersama lebih-lebih diera multi partai ini.  Begitupun dalam hal menjaga keutuhan wilayah NKRI dari ancaman dan gangguan pihak-pihak lain.

Berdasarkan kompleksitas permasalahan  ini merupaka dinamika kehidupan bangsa dan Negara yang harus dihadapi. Menjadi hak dan kewajiban Negara untuk menjaga dan membelanya, termasuk juga para perempuan khususnya perempuan kader orsospol. Disinilah diperlukan kesamaan pandangan,  kesadaran akan rasa tanggungjawab untuk menjaga dan membangun bangsa dan Negara.

 

C. Posisi Strategis Perempuan Kader Orsospol

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan tersebut diatas, sangatlah kompleks persoalan yang dihadapi oleh bangsa dan Negara dalam mepertahankan eksistensinya. Tidaklah berlebihan apabila dikatakan mempertahankan kemerdekaan akan jauh lebih sulit dari medapatkannya. Hal ini karena dalam makna mempertahankan mengandung arti menjaga dari ancaman dan gangguan, mengisi dan mengatasi hambatan dan tantangan serta membangun kearah yang lebih baik dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat (warga Negara).

Sebagaimana kilasan sejarah pada masa lalu, perempuan memiliki andil yang tidak kecil dalam sejarah perjuangan bangsa dan bela negara. Walaupun saat itu stigmatic terhadap kaum perempuan masih ditempatkan pada posisi sub-ordinat dengan laki-laki. Atas perjuangan dan gerakan emansipasi, gerakan gender, lambat laun posisi termarginalkan tersub sudah mulai mencair. Stigma cultural dan structural yang pernah disandang dengan menmpatkan kaum perempuan hanya pada urusan-urusan domistik, smentara kaum laki-laki pada urusan-urusan publik sudah  memudar. Saat ini kaum perempuan sudah mulai diperhitungkan dalam banyak hal. Banyak kaum perempuan sudah berkiprah dalam dunia public, jabatan-jabatan strategis dipemerintahan, legislative, perusahan-perusaan  yang strategis sudah mulai dirambah.

Dalam dunia politik, perjuangan untuk menempatkan kaum perempuan sebagai anggota legislatif sangat gencar dilakukan, hasilnya, banyak perempuan saat ini yang telah bergabung menjadi kader-kader partai politik. Maknanya, politik tidak lagi menjadi urusan kaum laki-laki, akantetapi menjadi urusan warga negara termasuk kaum perempuan.  Sebagai kader partai politik, perempuan memiliki posisi yang strategis, disamping sebagaian besar penduduk kita perempuan, diharapkan kaum perempuan dapat memberikan warna baru bagi pembangunan kehidupan politik yang demokratis. Dapat menghapuskan stigma kekerasan dalam berpolitik dan yang lebih penting dapat memperjuangan hak-hak hakiki perempuan dalam politik utamanya dalam merumuskan kebijakan-kebijakan strategis yang berpihak pada kaum perempuan.

Kaum perempuan kader orsospol ini merupakan perempuan-perempuan super dan memiliki kelebihan dibandingkan dengan perempuan biasa. SAngat sedikit perempuan yang mau terjun kedunia politik karena masih berkembang anggapan stigmatik politik patriarchat. Sebagai perempuan super, tentu para kader perempuan ini paling tidak memiliki kelebihan sebagaimana prasyarat sistem demokrasi politik yang ada. Pertama, pada mereka biasanya memiliki kemampuan atau kapasitas yang lebih dari yang biasa. Kemampuan atau kapasitas ini meliputi kemampuan/kematengan  intelektualitas, meliputi kemampuan  dalam merumuskan dan memecahkan masalah publik. Kemampuan/kematengan  emosional yang memadai dan kemampuan/kematengan spiritualitas yang mumpuni.

Kedua, pda mereka juga memiliki integritas pribadi yang kuat. Integritas ini meliputi kekuatan moral atau moral obligation dalam memperjuangkan idealism dan cita-cita, serta rasa nasionalisme dan kebangsaan yang tak diragukan. Karena pada dasarnya mereka yang trjun dalam dunia politik diawali akan kerisauan dalam melihat nasib bangsa dan negara, oleh karenanya melalui jalur politik mereka harus mampu memperjuangkan cita-cita dan mewujudkan harapan rakyat bagi kehidupan yang lebih baik.

Ketiga, mereka memiliki konstitunsi, yakni dukungan politik dari pengikut-pengikutnya (konstitunnya). Hal ini mengandung makna, para perempuan kader orsospol adalah orang-orang yang memiliki pengaruh yang kuat pada konstituennya untuk diikuti kehendaknya, didengar pendapatnya dan dihormati keberadaannya. Mereka inilah yang diharapkan mampu memberikan penyadaran dan kesadaran baru kepada pendukungnya tentang arti penting hak dan kewajiban warga negara diantaranya adalah melakukan bela negara.

Keempat, kepada mereka juga melekat akuntabilitas, suatu bentuk pertanggungjawaban publik atas posisi, ketekohan dan kiprah yang dijalankan untuk memperjuangkan hak-hak politik rakyat melalui saluran partai politik dan lembaga perwakilan.   Maka perempuan kader orsospol memiliki tanggungjawab moral yang lebih dibandingkan dengan perempuan biasa dalam menjaga, mengisi dan mengembangkan  cita-cita luhur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

D. Kesadaran Bela negara

Berkenaan dengan posisi stratetgis kaum perempuan kader orsospol dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah sepatutnya mereka memiliki kesadaran bela Negara yang melebihi masyarakat biasa. Kesadaran bela Negara ini meliputi upaya sadar akan hak dan kewajiban untuk melakukan bela negara. Kesadaran ini diawali dengan pemahaman akan wawasan kebangsaan sebagai suatu cara pandang untuk melihat bangsa dan Negara sebagai satu kesatuan yang utuh dalam suatu landasan idiil, ideologi negara Pancasila dan didasarkan pada landasan konstitusional UUD 1945 baik secara ideology, politik, ekonomi, sosial dan budaya serta pertahanan dan keamanan.

Dalam implementasinya, setiap kader perempuan orsospol harus dapat berperan dalam mengantisipasi hambatan, tantangan, ancaman dan gangguan baik yang bersifat laten maupun manifest bagi keutuhan NKRI. Upaya ini dapat dilkukan dengan mengatasi berbagai permassalahan kebangsaan dan negara yang semakin dinamis, diantanranya melalui:

  1. Melakukan nation carakter building; ini menjadi kata kunci yang sangat penting bagi setiap warganegara termasuk pada perempuan kader orsospol ditengah-tengah globalisasi yang melanda bangsa dan Negara. Kesadaran berbangsa dan bernegara, harus dimulai dengan pembangunan karakter bangsa yang menjadi landasan dan pedoman bersama dalam menanta kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara secara lebih baik dan terarah. Pembangunan karakter bangsa harus dimulai dari kesadaran akan rasa senasib dan sepnanggungan sabagai satu kesatuan bangsa Indonesia yang memiliki ideologi perekat dan pengikat yakni Pancasila sebagai landasan idiil serta falsafah Negara serta UUD 1945 sebagai landasan konstitusionalnya. Pembangunan karakteristik bangsa harus ditujukan pada penguatan terhadap ediologi Negara yang dalam implmentasinya secara konsistem mengacu pada UUD 1945.
  2. Penguatan kesadaran politik yang berpihak pada kemajuan bangsa dan Negara. Bahwa sistem politik  yang bertumpu pada demokrasi harus diperkuat dan diarahkan pada upaya untuk memperkuat system pemerintahan yang berkedaulatan rakyat. Oleh karenanya, kekuasaan, kebijaksanaan dan pengambilan keputusan dalam politik harusnya selalu mengacu pada kepentingan rakyat yang seluas-luasnya untuk kesejahteraan rakyat, dengan tetap menjadikan Pancasila sebagai landasan idiil dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusionalnya.
  3. Penguatan dibidang ekonomi kerakyatan.  Pilihan terhadap system ekonomi hendaknya tidak boleh menyimpang dengan system ekonomi Pancasila yang berpihak pada ekonomi kerakyatan. Setiap perempuan kader orsospol hendaknya memiliki referensi yang kuat dalam membangun basis ekonomi kerakyatan ditengah gemburan ekonomi bebas dan kapitalis. Kesejnangan ekonomi akan dapat mengganggu hubungan sosial yang pada akhirnya dapat menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan.
  4. Penguatan dibidang sosial dan budaya. Menyangkut adanya kesadaran bersama, atas dasar perasaan senasib dan sepenanggungan bahwak kita adalah satu bangsa yang multicultur. Kesadaran ini dapat dilakukan melalui upaya pengentasan kesenjangan sosial, kemiskinan, kebodohan. Adanya peenghargaan dan penghormatan terhadap perbedaan budaya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain merupakan upaya untuk mempererat rasa saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya.
  5. Penguatan dibidang pertahanan dan keamanan mengandung arti bahwa setiap jengkal tanah air ini harus dijaga keutuhan dan keberadaannya. Penguatan dibidang pertahanan dan kemananan menjadi hak dan kewajiban setiap warganegara, walaupun TNI dan Polri sebagai kekuatan utamanya. Sinergitas komponen bangsa dan Negara dalam menjaga harkat, dan martabat bangsa serta kemerdekaan dan persatuan NKRI merupakan nelai tertinggi dari makna bela negara.

 

E. Penutup

Sebagai penutup, perempuan kader orsospol sebagai perempuan-perempuan super dibandingkan dengan perempuan biasa, memiliki tanggungjawab lebih dalam melakukan bela negara. Bela negara dimaksud tidak hanya dalam kendisi  negara dalam keadaan bahaya perang., akan tetapi dalam setiap dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang berpeluang terjadinya hambatan, tantangan, ancaman dan  gangguan.  Upaya ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran bela negara, melalui kesadaran hak dan kewajiban bela negara yang meliputi upaya sadar dan sungguh-sungguh menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI dari berbagai hambatan, tantangan, ancaman dan ganggunan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Hal ini dapat dilakukan melalui penguatan dibidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya serta pertahanan dan  keamana.

Demikian makalah singkat ini disajikan sebagai bahan diskusi dalam merumuskan “Kesadaran Bela Negara bagi Perempuan Kader Orsospol”. Semoga ada manfaatnya.


Tamu Online

We have 26916 guests and no members online

 

Penilaian Website Kami

         yayasankorpribali.org review, PageRank, website value and SEO analytics       yayasankorpribali.org review, PageRank, website value and SEO analytics